![]() |
| Pasar Ukadz |
Para ulama' hampir bersepakat bahwa penyusun ilmu nahwu pertama adalah oleh Abul Aswad Ad-Dauli (67 H.) dari Bani Kinanah atas dasar perintah Amirul Mu'minin Khalifah 'Ali Rhadiyallahu 'anhu.
١- التحفة السنية بشرح المقدمة الأجرومية - شیخ محمد محي الدين عبد الحميد - ص : 6 واضعه - والمشهور أن أول واضع لعلم النحو هو أبو أسود الدولي ، بأمر أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضي الله تعالى عنهما.
٢- الكواكب الدرية على متمة الأجرومية - الشيخ محمد بن أحمد بن عبد الباري الأهدل ص : 25 – دار الكتب العلمية .وسبب تسمية هذا العلم بالنحو ما روي أن عليا رضي الله عنه لما أشار على أبي الأسود الدولي أن يضعه قال له بعد أن علمه الاسم والفعل والحرف : الاسم ما أنبأ عن المسمى ، والفعل ما أنبأ عن حركة المسمى ، والحرف ما أنبأ عن معنى في غيره والرفع للفاعل وما اشتبه به والنصب للمفعول وما حمل عليه والجر للمضاف وما يناسبه انح هذا النحو يا أبا الأسود فسمي بذلك تبركا بلفظ الواضع له.
Sejarah munculnya Ilmu Nahwu ini ketika zaman Abul Aswad Ad-Dauli datang ke rumah puterinya di tanah Basroh, (pada masa sekarang sebuah negeri di negara Iraq). Pada saat itu puterinya mengatakan يا ابت مااشد
الحر, dengan membaca rofa' pada lafadz اشد dan membaca jar pada lafadz الحر, yang menurut bahasa yang benar ما nya dilakukan sebagai istifham yang artinya: "Wahai Ayahku! Kenapa sangat panas?". Dengan spontan Abul Aswad menjawab: شهرناهذا (Wahai Puteriku, bulannya memang musim panas). Mendengar jawaban ayahnya, puterinya langsung berkata: "Wahai Ayah, saya tidak bertanya kepadamu tentang panasnya bulan ini, tetapi saya memberi khabar kepadamu atas kekagumanku pada panasnya bulan ini". (yang semestinya jika dikehendaki Ta'ajub diucapkan مااشد الحر, dengan membaca fathah pada اشد dan membaca nashob الحر. Sejak kejadian itu, Abul Aswad lalu datang kepada sahabat, Amirul Mu'minin Khalifah 'Ali, seraya berkata: "Wahai Amirul Mukminin, bahasa kita telah tercampur dengan yang lain", sambil menceritakan kejadian antara dia dan puterinya, maka buatlah saya sebuah ilmu, kemudian Amirul Mu'minin Khalifah 'Ali membacakan:
"الكلام كله لايخرج عن اسم وفعل وحرف الخ علي هذا النحو "
"Kalam itu tidak boleh lepas dari kalimat Isim, Fi'il, dan Huruf, dan teruskanlah untuk sesamanya ini". Kemudian Abul Aswad Ad- Dauli mengarang bab Istifham dan Ta'ajub, dan dikisahkan pula dari Abul Aswad Ad-Dauli, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur'an, ia mendengar sang qori' membaca surat At-Taubah ayat 3 dengan ucapan:
ان الله بريء من المشركين ورسوله. Dengan meng-kasrah-kan huruf lam pada kata RASULIHI yang seharusnya di dhommah. Menjadikan artinya "Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya". Hal ini menyebabkan arti kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan. Seharusnya kalimat tersebut adalah; ان الله بريء من المشركين ورسوله"Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin". Kerana mendengar perkataan ini, Abul Aswad Ad- Duali menjadi ketakutan, ia takut keindahan bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya bahasa Arab ini menjadi hilang, padahal hal tersebut terjadi di awal mula daulah Islam. Lalu beliau mengarang bab Athof dan Na'at, yang pada setiap karangan selalu dihaturnya pada Amirul Mu'minin Khalifah 'Ali, sehingga sampai mencukupi ilmu Nahwu yang secara keseluruhan.
Dengan melihat cerita tersebut maka pengarang ilmu Nahwu pada hakikatnya adalah Khalifah Sayidina 'Ali, yang melaksanakannya adalah Abul Aswad Ad-Dauli. Pada perkembangan selanjutnya, banyak orang yang menimba ilmu dari Abul Aswad, diantaranya Maimun Al-Aqron, kemudian generasinya Abu Amr bin Ala', kemudian generasinya Imam al Kholil al-Farahidi al-Bashri (peletak ilmu arudh dan penulis Mu'jam pertama), kemudian generasinya Imam Sībawaih dan Imam Al-Kisa'i (pakar ilmu nahwu, dan menjadi rujukan dalam kaidah bahasa Arab). Seiring dengan berjalannya waktu, kaidah bahasa Arab berpecah belah menjadi dua madzhab, yakni madzhab Basrah dan Kufi (padahal kedua-duanya bukan termasuk daerah jazirah Arab). Kedua madzhab ini tidak henti-hentinya tersebar sampai akhirnya mereka membaguskan pembukuan ilmu nahwu sampai kepada kita sekarang.
Sumber: Petualang Nahwu Terjemah Syarah Mukhtashor Jiddan, Juz I. Cet. Lirboyo Press.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar